Level Mindset Trader Miliarder

Please note that without a good psychology and money management, a trading system is useless.

Pesona pasar keuangan semakin memikat banyak orang untuk mengail rezeki dari sana. Bursa saham menjadi salah satu lahan yang memancing gairah banyak orang untuk mencoba peruntungan sebagai trader.

Tapi, tentu saja menjadi trader yang sukses bukan semudah membalik telapak tangan. Bukan rahasia lagi bahwa lebih banyak trader yang tumbang di tengah jalan ketimbang yang akhirnya sukses mencapai tujuan.

Sebagian trader yang masih bertahan pun tak jarang masih diliputi keki dan frustrasi. Kerugian demi kerugian lebih sering menimpa ketimbang cuan yang datang.

Jika Anda tertarik pada dunia trading saham, atau instrumen keuangan lain, tak ada salahnya mengenali diri sedang berada pada tahapan mana saat ini. Ibarat mengarungi perjalanan panjang, mengetahui posisi kita saat ini di peta akan menghindarkan diri dari risiko tersesat.

5 level kemahiran trading dalam artikel ini begitu terkenal dan telah menginspirasi banyak sekali trader di seluruh dunia. "Peta jalan" trading ini telah menyebar dari mulut ke mutlut, dari email ke email, dari forum ke forum, dan kini dari grup chat ke grup chat.

Saking banyaknya sharing tentang 5 level kemahiran trading ini, akhirnya nyaris tidak ada informasi pasti tentang siapa orang yang pertama kali mencetuskan gagasan yang sangat inspiratif ini.

Namun demikian, hasil penelusuran KONTAN.co.id menunjukkan bahwa ide utama tentang level kemahiran trading ini diadopsi dari teori " Empat Tahap Mempelajari Beragam Keahlian". Teori ini dikembangkan oleh seorang pekerja di Gordon Training International bernama Noel Burch, pertengahan tahun 1970-an.

Nah, entah siapa yang pertama kali mengadopsinya ke dunia trading. Entah siapa pula yang pertama kali menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Asal Anda tahu versi bahasa Indonesia-nya pun sangat beragam.

Jika Anda seorang trader saham forex, bitcoin, atau instrumen keuangan apapun, percayalah bahwa mengenali 5 level kemahiran trading berikut akan sangat bermanfaat.

 

 

Unconscious Incompetence

Tidak sadar bahwa tidak mampu. Ini level paling dasar yang pernah dihuni seorang trader, mungkin termasuk Anda saat ini. Bisa jadi Anda menjadi trader karena tergiur berbagai kabar yang menyebutkan bahwa dunia trading bisa mengantar Anda masuk daftar orang terkaya Forbes dalam semalam.

Pada minggu-minggu awal trading, Anda mungkin memperoleh profit menakjubkan 10%! Harga bergerak persis dengan harapan posisi Anda.

Padahal Anda sendiri merasa belum banyak mengetahui dunia trading ini. Diam-diam Anda bergumam, "Wah, ternyata menjadi kaya itu begitu mudah."

Anda mulai merasa yakin jalan trading adalah suratan nasib Anda yang sesungguhnya. Anda merasa bernasib baik karena bertemu dengan dunia trading.

Karena itu pula Anda mulai menghitung-hitung berapa yang akan diperoleh dalam sebulan, setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun. Anda pun merasa telah menemukan jalan yang tepat untuk meraih kekayaan. 

Sayangnya, anggapan itu segera luntur secara perlahan. Hari demi hari, minggu demi minggu, keberuntungan awal itu tak kembali terulang. Seolah pergerakan harga terus menerus melawan posisi transaksi Anda. Modal Anda justru semakin tergerus. Anda mencoba bertahan namun modal semakin menipis.

Namun begitu Anda tetap ngeyel bahwa trading merupakan jalan hidup, walaupun rekaman kinerja portofilo berkata sebaliknya. Anda tetap yakin sebagai orang istimewa yang akan mampu mendapatkan kunci kekayaan dari trading meskipun lebih sering rugi ketimbang profit. 

Anda tidak rela mendapati kenyataan bahwa "peta harta karun" bernama trading yang tengah Anda pegang mungkin palsu dan menyesatkan.

Di tahap ini Anda sama sekali tidak mempunyai strategi trading. Emosi Anda lebih dominan. Anda kerap marah karena market "melawan" posisi Anda. Posisi-posisi yang Anda pasang lebih sering disebabkan nafsu balas dendam ketimbang perhitungan matang.

Seiring itu, Anda semakin takut bertransaksi. Saking takutnya, Anda buru-buru ambil untung ketika gain masih terlalu kecil. Namun, sebaliknya, rasa penasaran Anda terus membiarkan posisi yang terlanjur loss semakin menumpuk.

Sebagian besar trader yang berada pada kondisi ini akhirnya menyerah dan marah sembari menyimpulkan trading bukan jalan yang tepat baginya. Sebagian lagi menyadari bahwa dia memang kalah dan memilih menyerah dengan sukarela. 

Cukup banyak yang tetap bertahan di level ini hingga tahunan, namun tak pernah beranjak dari sana. Mereka terus menerus mengulang kesalahan yang pernah terjadi. 

Sebagian trader, porsinya lebih sedikit, akhirnya paham bahwa selama ini mereka memang sama sekali tidak tahu trading. Mereka baru menyadari bahwa selama ini cuma gambling, berjudi. 

Pemahaman yang terakhir ini mengantar mereka tiba pada level berikutnya. 

 

 

Conscious Incompetence

Sadar bahwa tidak mampu. Di level ini Anda sadar tidak memiliki kemampuan trading yang mampu menghasilkan profit secara konsisten. Oleh karena itu Anda berusaha mendapatkan solusinya: menguasai ilmu. Anda mulai berburu segala bentuk pengetahuan tentang trading.

Anda akan berusaha mendapatkan sistem trading yang sempurna, sistem yang mampu mendatangkan keuntungan secara penuh, sistem yang tidak pernah rugi.

Bahkan jika punya uang memadai, Anda tidak akan segan membeli sistem yang ditawarkan di internet. Anda membaca semua situs tentang trading, asuhan guru lokal maupun asing. Anda baca semua ebook yang ada dan mempraktikkannya.

Anda haus akan ilmu seperti seorang pengembara di padang pasir yang haus akan air minum. Anda belajar teori-teori itu di sembarang waktu dan kesempatan. Anda seperti orang kesurupan berburu sistem trading.

Pada level ini Anda akan membaca semua detail tentang indikator. Anda akan menguji semua indikator yang ada. Anda juga mulai mencoba-coba membuat indikator atau sistem trading sendiri.

Dari sini Anda tahu bahwa market terlalu rumit untuk diprediksi hanya dengan 1 indikator. Anda mulai mencari kombinasi ideal dari masing-masing indikator. Anda tahu benar keunggulan dan kelemahan indikator tersebut.

Di level ini Anda akan mencoba mencari-cari posisi terbaik untuk pasang posisi menurut indikator-indikator tersebut. Anda tidak segan menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada para trader yang Anda anggap senior. Anda tahu bahwa satu-satunya cara sukses trading adalah dengan menguasai ilmunya.

Meski harus terseok-seok, Anda terus berusaha mengusai ilmu trading yang memuaskan. Sampai pada akhirnya Anda menyadari bahwa pokok permasalahan bukan terletak pada sistem atau indikator.

Anda mulai menyadari bahwa seorang trader bisa memprediksi gerak harga hanya dengan menggunakan indikator standar seperti moving average asalkan tidak didominasi emosi dan memiliki manajemen risiko yang benar.

Karena itu Anda mulai membaca buku tentang psikologi trading dan mengidentifikasi dengan karakter yang dijelaskan dalam buku itu. Anda semakin meminati topik psikologi trading dan manajemen risko, ketimbang sekadar mengumpulkan indikator.  

Kegigihan seperti ini akan membawa sebagian trader di level ini ke sebuah tingkatan baru: datangnya pencerahan. 

 

 

Pencerahan

Akhirnya, pada suatu ketika, mungkin sesaat sebelum terlelap, seolah Anda mendapat wangsit bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memprediksi secara akurat apa yang akan terjadi pada market.

Dengan datangnya kesadaran itu, perburuan sistem yang sempurna pun Anda hentikan. Anda mulai menekuni satu sistem trading dan berusaha memodifikasinya agar sesuai karakter diri.

Anda akan bertransaksi jika tahu probabilitas untuk profit lebih besar daripada untuk loss. Anda hanya trading jika ada sinyal dari sistem yang Anda bangun sendiri. 

Ketika mendapati posisi ternyata merugi, Anda tidak lagi emosi karena tahu itu sebagai kewajaran. Anda tetap percaya pada sistem yang Anda bangun.

Anda sudah menyadari bahwa konsistensi pada sistem, psikologi trading, dan manajemen risiko merupakan bagian yang penting dan tidak terpisahkan agar sukses trading.

Sejalan dengan kesadaran ini, kinerja trading Anda semakin membaik. Anda pun kian yakin telah berada pada jalur yang sungguh-sungguh benar.

Kenyataan akan hal ini mulai mengantar Anda memasuki level berikutnya.

 

 

Conscious Competence

Sadar bahwa mampu. Sekarang Anda tahu benar bahwa Anda memang memiliki kemampuan untuk trading. Anda mulai berani menyusun target yang masuk akal sesuai dengan kemampuan itu. Semakin sering target itu tercapai, semakin Anda berani meningkatkan target.

Namun Anda tahu benar bahwa mencapai target-target itu bukanlah langkah mudah. Anda masih harus berjuang untuk mendapatkannya dengan memperbaiki sistem, menguasai emosi, dan melaksanakan managemen risiko secara disiplin.

Di level ini Anda semakin tenang. Tidak ada lagi kegaduhan di dalam diri. Anda tidak bergantung lagi pada pendapat orang lain. Anda tidak lagi melahap semua teori trading, kecuali benar-benar sejalan dengan sistem dan keyakinan yang Anda anut.

Anda mulai berani memberikan saran kepada trader-trader yang lebih lugu. Bahkan pada kondisi tertentu, dengan niat baik, Anda setengah memaksa para trader pemula untuk meyakini trading sistem yang Anda kembangkan tadi. 

Sebagian besar trader yang mampu mencapai tahap ini akan terus berada di sini. Sebagian yang lain mulai berani mengandalkan trading sebagai sumber nafkah utama.  Mereka menjadi sangat profesional. Bekerja sebagai trader untuk dirinya sendiri maupun memutar akun atau modal orang lain.

 

 

Unconscious Competence

Tak ambil pusing lagi soal kemampuan. Level keahlian trading yang terakhir ini paling sedikit penghuninya. Jika "beruntung" mencapai level ini, trading Anda tak lagi berlangsung melulu berdasarkan sistem. 

Anda bisa melihat market sejelas membaca buku yang terbuka. Anda bisa keluar-masuk kapan saja dan tetap menghasilkan profit. Orang lain mungkin akan menganggap Anda juragan yang mengendalikan market karena Anda selalu bisa berdansa dengan market. 

Di tahap ini Anda sendiri tahu tidak akan mampu menularkan kemampuan Anda kepada orang lain, meski menghendakinya. Anda memang akan berusaha membantu trader lain yang tengah merangkak pada semua level di bawah tadi, tapi Anda tak berambisi membuat mereka berhasil sepenuhnya karena tahu benar bahwa keberhasilan seorang trader bukan bergantung kepada guru melainkan kepada diri sendiri. 

Di level ini Anda bisa dibilang mampu sekehendak hati mengumpulkan kekayaan. Namun, lucunya, belum tentu Anda benar-benar kemaruk untuk mewujudkan impian semasa menjadi trader level satu atau level dua.

Sebagian dari trader di level ini hanya trading untuk hidup. Mereka memasang target profit sesuai kebutuhan, dari memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, menyiapkan anggaran liburan tahunan ke luar negeri, mencarikan uang kuliah anak tetangga sebelah yang sedang tertimpa musibah, atau membantu menghidupi rumah yatim piatu. 

Namun, di level ini pula sebagian lain trader merasa kesepian. Topik-topik diskusi tentang trading semakin terasa basi, tak ada lagi hal-hal baru yang menantang. Tak ada lagi kawan yang menggairahkan untuk teman berdiskusi. 

Akibatnya, ada juga trader di level ini yang merasa bosan dan akhirnya dengan penuh kesadaran malah berhenti trading. Ironis memang jika dipandang dari kacamata para trader di level bawah.

Ada di antara mereka memilih menjadi "orang biasa" lagi dengan membuka warung sembako atau belajar bertani. Atau menekuni bidang-bidang baru yang mengharuskan mereka belajar lagi dari awal.

Nah, di level mana Anda sekarang?