Pilih Valas Dari Saham

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pintar menyikapi risiko investasi menjadi kunci sukses berinvestasi di instrumen yang berisiko tinggi.

High risk high return, itulah prinsip investasi yang dipegang Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi dalam berinvestasi valas.

Sebelum menekuni investasi valuta asing (valas), Ibrahim sempat memilih saham sebagai instrumen investasi pertamanya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Ibrahim lebih tertarik berinvestasi dalam dunia foreign exchange.

Pria asal Brebes ini menceritakan, ia berkenalan dengan dunia foreign exchange (forex) setelah mengikuti pelatihan investasi forex dari salah satu perusahaan berjangka di 1996.

Pelatihan singkat tiga hari di Singapura ini menjadi pintu gerbang awal Ibrahim mendalami dunia forex.

Bagi Ibrahim, pengalaman ia bertransaksi valas pertama kali cukup mengesankan.

Demi mengumpulkan modal buat masuk pasar valas, ia sempat menggadaikan sawah miliknya.

Dari situ, ia berhasil mengumpulkan dana sekitar US$ 5.000, atau sekitar Rp 12,5 juta di tahun 1996. Ibrahim pun masuk pasar valas dengan dana tersebut.

Tapi rupanya, ilmu Ibrahim saat itu belum cukup mumpuni untuk menghasilkan keuntungan. Alih-alih cuan, Ibrahim mengalami kerugian.

"Saya memutuskan menarik dana saat rugi, ketika dana investasi saya menurun jadi Rp 10 juta," kata Ibrahim.

Meski merugi, Ibrahim tidak jera. "Saya mengawali investasi valas dari bawah hingga saya merasa nyaman dan menjadikan investasi forex sebagai sumber pendapatan," tegas dia.

Ibrahim justru tertantang dan terus mengasah wawasan serta ilmunya agar mahir dalam berinvestasi forex.

Hingga ke Irak

Ia pun memutuskan mengambil gelar magister di Irak untuk menambah ilmunya.

Alasan lain yang membuat Ibrahim menyukai instrumen valas adalah potensi kenaikan imbal hasil yang berkali-kali lipat.

"Saya suka investasi valas karena pernah kondisi ekonomi saya turun, dan yang membuat ekonomi saya terangkat kembali adalah valas," kata pria ini.

Menurut Ibrahim, instrumen valas saat ini jadi paling menarik di tengah sentimen virus korona yang menyeret turun kinerja pasar modal.

"Investasi forex itu ada posisi jual dan beli yang bisa tetap mendapat keuntungan," kata Ibrahim.

Ibrahim menuturkan ada satu hal yang harus dipersiapkan bagi investor pemula yang tertarik berinvestasi di forex, yaitu strategi menyikapi risiko. Maklum, forex memiliki karakteristik high risk high return.

Karena itu investor harus siap menghadapi risiko yang datang.

"Milenial biasanya mau cepat untung besar, itu tidak apa, hanya saja harus pintar menyikapi risiko yang membuntuti," kata Ibrahim.

Kunci sukses berinvestasi forex adalah kemauan kuat untuk belajar dan terus menambah wawasan, termasuk strategi analisis teknikal dan fundamental.

"Dari 100 orang yang mencoba berinvestasi forex bisa hanya lima orang yang berhasil, jadilah salah satu orang yang berhasil tersebut, kalau belajar secara fokus pasti akan menghasilkan keuntungan," kata Ibrahim lagi.

Selain valas, instrumen investasi Ibrahim berkembang pada properti dalam bentuk rumah dan apartemen serta tanah. Ibrahim mengatakan investasi properti penting dilakukan.


"Ketika kita berhasil di pekerjaan, rumah atau properti harus diprioritaskan karena bila bisnis kita jatuh atau ekonomi sulit paling tidak kita memiliki rumah," kata Ibrahim.

Kontan